Prestasi

Catur Ditya Ramadhany, Mapres Unsoed 2015

Ekstrak teh hijau sebagai alternatif media penyimpanan gigi avulsi antarkan Catur Ditya Ramadhany sebagai Mahasiswa Berprestasi Unsoed 2015.  Catur menganalisis Epigallocatechin Gallate Ekstrak Teh Hijau (Camellia sinensis) Sebagai Alternatif Media Penyimpanan Gigi Avulsi emilihan mahasiswa berprestasi tingkat universitas ini, diikuti oleh 17 mahasiswa yang terdiri dari 12 mahasiswa Program S1 dan 5 mahasiswa Program Diploma. Penilaian meliputi bidang penulisan&presentasi bidang karya tulis ilmiah, bidang kemampuan berbahasa Inggris, bidang pengembangan diri/ kepribadian prestatif, dan bidang Kokurikuler&Ekstrakurikuler mahasiswa. 

Catur berhasil menjadi Juara 1 Mahasiswa Berprestasi Unsoed 2015 setelah mengungguli dua pesaing terdekatnya yaitu Dian Ayu Palupi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis di tempat ke dua, dan Yuli Astuti dari Fakultas Pertanian di tempat ke tiga dengan selisih nilai yang sangat tipis.

Gigi lepas bisa terjadi pada siapa saja.  Biasanya, kebanyakan orang langsung pasrah apabila hal ini terjadi dan berakhir dengan gigi yang menjadi ompong atau memakai gigi palsu.  Padahal gigi utuh yang terlepas bisa dipasang kembali.  Istilah medis lepasnya gigi utuh ini disebut avulsi.  Avulsi atau lepasnya  gigi dari soket alveolar akibat adanya cedera gigi semestinya masih bisa dipasang lagi dengan penanganan yang tepat.  Namun, pada kondisi tidak tersedianya klinik gigi terdekat dapat menyebabkan keterlambatan penanaman kembali gigi yang lepas tersebut.  Untuk menjaga vitalitas sel ligamen periodontal agar gigi dapat ditanam lagi maka dibutuhkan media penyimpanan.  Mahasiswa Kedokteran Gigi Unsoed, Catur Ditya Ramadhany memiliki ide solutif atas masalah penyimpanan tersebut yaitu pemanfaatan ekstrak teh hijau.  “Selama ini media penyimpan yang kita kenal adalah HBSS (Hank’s balanced salt solution) yang tidak semua orang mudah mendapatkannya,” jelasnya.  Catur menganalisis Epigallocatechin Gallate Ekstrak Teh Hijau (Camellia sinensis) Sebagai Alternatif Media Penyimpanan Gigi Avulsi.  “Selain harganya terjangkau, saya kira teh hijau mudah didapat di Indonesia,” jelasnya.  Ide yang dituangkan dalam karya ilmiah ini akhirnya mengantarkan Catur menjadi Juara 1 dalam pemilihan Mahasiswa Berprestasi Unsoed 2015 dan akan berkompetisi di Tingkat Nasional.

Catur yang juga Juara 1 Kompetisi Riset Tingkat Nasional Tahun 2013 dan 2014 ini mengungkapkan bahwa jangka waktu standar lepasnya gigi utuh hingga tetap dapat dipasang lagi adalah sekitar dua jam, tapi idealnya 15-20 menit.  Lebih dari itu, maka gigi utuh harus disimpan dan mendapat perlakuan yang tepat.  “Dengan penggunaan teh hijau maka potensi vialibilitas sel dapat dipertahankan sebesar 97,2 % hingga 24 jam,” ungkapnya.  Hal ini berarti potensi teh hijau mengungguli HBSS yag hanya sebesar 93,3%.  “Tampaknya hal ini dikarenakan teh hijau memiliki sifat antioksidan yang kuat, antiinflamasi, antikarsinogen, antiobesitas, antibakteri, antiviral, antienzymatic effects, termogenik, dan probiotik pada manusia, hewan, maupun studi in vitro” ungkapnya.   Ekstraksi teh hijau dapat dilakukan dengan metode perkolasi.  “Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi,” ungkapnya. 

Dengan adanya alternatif ini Catur berharap gigi utuh lepas yang bisa menimpa siapapun ini dapat tetap dipasang lagi.  “Jangan membuang gigi anda jika terlepas utuh, jangan sentuh akar giginya, segera ke dokter, dan jika jaraknya jauh maka simpanlah di media penyimpanan yang paling mudah anda dapatkan salah satunya ekstrak teh hijau,” jelasnya.  Dengan demikian pengembangan EGCG ekstrak teh hijau di Indonesia dapat dilakukan melalui diversifikasi usaha produk olahan teh hijau di bidang kesehatan. “Diversifikasi ini dapat bekerja sama dengan berbagai pihak  untuk memproduksi secara mandiri ekstrak teh hijau sebagai media penyimpanan gigi avulsi yang murah dan mudah didapat,” ungkapnya.  Maju Terus Pantang Menyerah !