News

Diskusi Publik dan Penandatanganan MOU UNSOED dengan Radio Republik Indonesia

Sesuai dengan motonya “Sekali di udara tetap di udara”, Radio Republik Indonesia (RRI) terus melakukan pembenahan untuk mengemban amanat bangsa.  Tidak saja sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang memberikan informasi kepada publik akan tetapi juga mengemban tugas sebagai ‘sabuk pengaman’ di pulau-pulau terluar Indonesia dimana warga negara Indonesia di pulau-pulau yang berbatasan dengan negara lain sering kali lebih mudah mendapatkan signal radio dari negara tetangga yang isinya adalah mengenai negara tersebut.  Maka RRI menjadi sabuk pengaman dengan mendirikan stasiun-stasiun RRI di pulau-pulau terluar.  Demikian disampaikan oleh Direktur Program dan Produksi RRI Pusat, Masduki, S.Ag.,M.Si, MA sebelum menandatangani nota kesepahaman dengan Universitas Jenderal Soedirman. Dengan ditandatanganinya nota kesepahaman dengan Unsoed, Masduki, S.Ag.,M.Si, MA atau yang biasa disapa dengan Pak Adink berharap agar RRI mampu memberikan siaran-siaran yang berkualitas, informatif, sekaligus solutif terhadap persoalan-persoalan masyarakat.  Bahkan Mas Adink mengatakan bahwa RRI sangat terbuka bagi Unsoed, bukan sekedar sebagai tempat magang akan tetapi juga sebagai laboratorium penelitian.

Rektor Unsoed, Prof. Edy Yuwono, Ph.D menyambut baik nota kesepahaman dengan RRI dan mengungkapkan bahwa antara RRI dan Unsoed ada suatu kegayutan semangat dan relevansi spirit melalui edukasi dan informasi untuk berkontribusi mencerdaskan masyarakat.  Rektor Unsoed berharap bahwa dengan adanyaLPPM dan 59 Program Studi di 8 Fakultas di Unsoed dapat bersinergi dengan RRI untuk membangun program-program yang bersifat edutainment, yang menghibur dan memperkokoh jatidiri Unsoed dan RRI sebagai alat perjuangan dan kejuangan yang tidak akan lekang di tengah globalisasi.

Setelah penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama, acara dilanjutkan dengan diskusi publik yang disiarkan secara langsung dengan tema “Penguatan Eksistensi RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik Melalui Revisi Undang-undang Penyiaran”.  Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah Tias Anggoro, Anggota Komisi Pengawas LPP RRI dan juga Pakar Komunikasi dari Unsoed, Dr. Wisnu Widjanarko, M.Si.

Tias Anggoro mengajak kepada Unsoed dan masyarakat untuk berkontibrusi memberikan masukan dan saran terhadap perkembangan LPP RRI ke depan.  Sementara itu Dr. Wisnu Widjanarko menyampaikan pandangan dan masukannya mengenai perkembangan LPP RRI ke depannya dan mengatakan bahwa keberadaan RRI di masa lalu yang menjadi corong pemerintah saja bukanlah salah RRI sebagai lembaga. 

Kunjungan ke Laboratorium Jurusan Komunikasi FISIP Unsoed

Setelah agenda diskusi publik, Tias Anggoro dan Pak Adink berkenan berkunjung ke Laboratorium Jurusan Komunikasi FISIP Unsoed atas undangan Dr. Wisnu Widjanarko yang juga merupakan Ketua Laboratorium tersebut.  Tias dan Pak Adink mengunjungi ruang siaran, fotografi, perpustakaan, dan studio foto yang ada di Laboratorium Komunikasi FISIP Unsoed.  Tias dan Pak Adink disambut juga oleh Ketua Jurusan Komunikasi FISIP Unsoed Mite Setiansah, M.Si.

Dalam kunjungan tersebut, secara informal Dr. Wisnu dan Pak Adink berbincang-bincang tentang kerjasama antara Jurusan Komunikasi FISIP Unsoed dengan RRI. (HP)

 

Bahasa Indonesia