Test RSS

Kuliah Umum : Negara Hadir dalam Perlindungan WNI di Luar Negeri

Memperingati Pi, Diskusi Gostrawala II Bahas Gunung Pi

[unsoed.ac.id, Rab, 25/3/15] Dalam rangka memperingati hari Pi yang jatuh pada Tanggal 14 Maret, Diskusi Gostrawala II MIPA UNSOED membahas tema ini.

Temu Kangen Alumni Fakultas Biologi Angkatan 89

[unsoed.ac.id, 25/3/15] Menjadi mahasiswa di Fakultas Biologi Unsoed merupakan suatu kebanggaan. Berbagai kenangan, suka duka yang terukir manis saat bersama-sama menempuh pendidikan di Fakultas  Biologi, menjadi alasan kuat untuk mengenang kembali masa-masa tersebut  dalam kebersamaan yang penuh dengan suasana kekeluargaan. Alumni Fakultas Biologi Angkatan 89 (Bianglala) mengadakan temu kangen pada 21 Maret 2015 bertempat di lapangan parkir Fabio. Acara tersebut dihadiri oleh pimpinan,perwakilan dosen dan para alumni. Acara tersebut merupakan ajang sosialisasi untuk merekatkan kembali tali persahabatan dan diharapkan dengan acara tersebut dapat memberikan kontribusi positif baik bagi alumni maupun kampus.

Priyo Wahyudi sebagai Wakil Alumni 89 menceritakan pengalamannya selama menempuh pendidikan di Fabio dan berbagai perkembangan terkini yang cukup membuat alumni bangga. “Saya sebagai wakil alumni mengucapkan terima kasih atas arahan dan didikan Bapak/Ibu Dosen selama ini, karena tanpa didikan Bapak/Ibu Dosen, kami bukan siapa-siapa,”ujar Pak Priyo. Harapan Pak Priyo kedepannya, agar alumni bisa memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan kampus, salah satunya dengan mengadakan one day class untuk sharing terhadap mahasiswa dalam pencapaian karier alumni (succeess story) dan memberikan motivasi dan semangat.

Acara berakhir dengan pemberian kenang-kenangan kepada Fakultas Biologi dan diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Drs. Agus Hery Susanto. Beliau mengucapkan terima kasih atas kepedulian dari para alumni baik dari berbagai informasi yang diberikan, sharing pengetahuan dan dalam bentuk materi yang dibutuhkan.

Seperti kata Confusius, seorang philospher terkemuka mengungkapkan bila kita sedang minum air, marilah kita ingat siapa siapa saja yang telah menggali sumur itu. Ungkapan ini dapat diartikan, bila kita sukses, ingatlah siapa saja yang telah membantu kesuksesan kita. Maju Terus Pantang Menyerah! (APR)

 

Akses Online Rekap Presensi Jamin Hak dan Kewajiban Perkuliahan

[unsoed.ac.id, Sel, 24/3/15] Perkuliahan telah memasuki minggu ke empat. Mahasiswa Fisip masih penuh semangat mengikuti pembelajaran diselingi dengan kegiatan ekstra kurikuler yang semakin marak. Perjalanan perkuliahan ternyata menyisakan sedikit polemik berkaitan dengan model presensi, berada dalam menu Sistem Informasi Akadeik (SIA). Adi mahasiswa Sosiologi mengaku kaget ketika melakukan akses SIA. Terdapat menu Presensi Mhs (mahasiswa) yang tersusun submenu Jadwal Kuliah, Jadwal Per Tgl dan Log Fingerprint. Menu baru ini sebenarnya memudahkan mahasiswa untuk mengetahui secara langsung keaktifan dalam setiap perkuliahan. Konsekuensi bagi mahasiswa adalah apabila presensi tidak mencapai 75 % berarti tidak dapat mengikuti ujian semester.

Hal ini dirasakan juga oleh Bapak Tri Nugroho Dosen Ilmu Komunikasi. Beliau menyambut baik adanya program ini. Dosen dan mahasiswa dapat mengetahui secara online presensi perkuliahan sekaligus menunjukkan adanya hak dan kewajiban yang telah tertunaikan. Namun harus ada sosialisasi agar program ini berjalan lancar, tutur Pak Tri.

Diakui oleh Kepala Subbagian Akademik dan Kemahasiswaan Sugito, S.E, bahwa dalam SIA terdapat rekap presensi perkuliahan. Program ini berjalan mulai semester genap ini, sehingga wajar apabila mahasiswa dan dosen saling mempertanyakan. Secara teknis staf akademik akan melakukan rekap terhadap presensi sehari setelah perkuliahan usai. Dosen dan Mahasiswa dapat membaca secara online pada program SIA. Oleh karena itu mohon kepada Dosen untuk mengembalikan presensi setelah perkuliahan berlangsung, tutur Pak Gito. Beliau juga menegaskan bahwa sebenarnya hal ini merupakan proses transisi hingga dilaksanakannya presensi menggunakan fingerprint secara online. Selanjutnya subbag Akademik akan berusaha melakukan upaya seefektif mungkin, agar tidak mengganggu konsentrasi belajar mengajar namun rekap ini tetap berjalan lancar.

Maju Terus Pantang Menyerah !

Misteri Angka Awali Diskusi Gotrasawala PII MIPA UNSOED

[unsoed.ac.id, Sen,23/3/15] Dalam kepengurusan PII (Pusat Infromasi Ilmiah) Periode 2015 Fakultas MIPA ditetapkan agenda diskusi dan bedah buku tiap Rabu sore bertajuk Gotrasawala dan Darpita Kusala. Kedua acara tersebut melibatkan dan memberikan kesempatan kepada seluruh mahasiswa FMIPA UNSOED untuk menjadi peserta, serta para dosen untuk menjadi nara sumber.

Gotrasawala merupakan istilah yang pertama kali digunakan pada awal masa Kacirebonan menjadi Pusat Pengembanag Ilmu Pengetahuan (1677-1698). Pada masa itu, para mahakawi (ilmuwan) dari seluruh nusantara berkumpul di Kacirebonan dengan dukungan pendanaan dari Kasepuhan dan Kanoman. Hasilnya adalah sekian banyak naskah yang saat ini dikenal sebagai naskah-naskah Wangsakerta. Hal ini membuktikan bahwa tradisi ilmiah dan seminar ilmiah seluruh nusantara sebenarnya telah berlangsung sangat lama di nusantara.

Istilah gotrasawala kemudian diadopsi oleh banyak pihak saat ini, seperti penyelenggaraan gotrasawala yang digagas Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedy Mizwar yang menyelenggarakan gotrasawala bertajuk Gunung Padang. PII FMIPA UNSOED mengadopsi istilah gotrasawala untuk menampung acara bedah buku populer tiap Rabu sore dan setelah tiga kali pelaksanaan akan diselingi diskusi film fiksi ilmiah dalam format acara Darpita Kusala. Dalam acara yang bertajuk Gotrasawala dan Darpita Kusala juga dapat disisipkan tema-tema seputar Ke-MIPA-an dan polemik yang sedang populer seperti Keanggunan Heliosentris dan Menggugat Keanggunan Heliosentris.

Pada pelaksanaan gotrasawala yang pertama kali, tampil sebagai nara sumber adalah Koordinator PII FMIPA 2015, Agung Prabowo, S.Si., M.Si dengan mengangkat tema “Angka dalam Berbagai Peradaban Dunia”. Gotrasawala tersebut membahas (membedah) buku The Mystery of Numbers karya Annemarie Chimmel yang telah dialihbahasakan dan diterbitkan oleh Penerbit Mizan, 2006 menjadi “Misteri Angka-Angka”.

Untuk dapat mengikuti acara gotrasawala, setiap mahasiswa harus terlebih dahulu mendaftarkan diri. Perlunya pendaftaran karena penyelenggaraan gotrasawala yang bertempat di Perpustakaan FMIPA UNSOED, hanya sanggup menampung 20 mahasiswa (keterbatasan ruang).

Dalam gotrasawala pertama peserta yang mendaftar tercatat 7 mahasiswa dan hadir pada pelaksanaan sebanyak 6 yang seluruhnya dari Jurusan Fisika, FMIPA UNSOED. Mereka adalah Rizkiana S, Aris Setiawan, M. Raihan Hamdi, Budi Dharmala S, Yuyun Septyana dan Agus Yusup. Gotrasawala ini diwarnai dengan diskusi antara aundiens dengan nara sumber sehingga acara berlangsung cukup semarak. Usulan diajukan oleh salah seorang audiens agar dalam pelaksanaan menyertakan gambar, audio atau video untuk membantu semangat mengingat pelaksanaan acara sore hari. Usulan ini langsung ditindaklanjuti pada gotrasawala kedua dengan memutar beberapa video pendek dari youtube sesuai tema. Terlihat, audiens lebih antusias karena dapat belajar dari beragam sumber informasi: presentasi dengan power point, pemuatarn film dokumenter dan diskusi.

Gotrasawala dengan tema “Angka dalam Berbagai Peradaban Dunia” diawali dengan kilasan buku karya Annemarie Schimmel “The Mystery of Numbers”. Numerologi dan daya magis angka telah menarik umat manusia selama ribuan tahun. Simbol Sekolah Pythagoras adalah tectractys (empat unsur suci): api, air, udara dan tanah/bumi. Tectractys diwakili oleh segitiga sama sisi yang tersusun dari 10 buah titik (1 + 2 + 3 + 4 = 10). Sebuah segitiga sempurna. Dalam madzab Pythagoras, 1 adalah penciptaan, 2 adalah pria, 3 wanita, 4 keadilan (hasil kali yang pertama dari angka yang sama, 2 x 2), 5 melambangkan pernikahan (penjumlahan pria dan wanita) dan 6 adalah kelahiran (hasil kali pria dan wanita).

Buku Schimmel juga membahas angka bangsa Maya yang pernah menghebohkan dunia beberapa tahun yang lalu terkait dengan ramalan kiamat 2012. Angka bangsa Maya disusun dengan basis 20 dan telah memiliki simbol untuk 0 berupa mata/kerang kosong (xok). Salah satu angka yang mendapat perhatian kuat adalah angka 13, terkait dengan Triskaideka-phobia (ketakutan dengan angka 13). Penggunaan kronogram dalam Islam juga mendapat perhatian dari Schimmel dalam bukunya tersebut.

Selanjutnya, secara berturut-turut Schimmel memaparkan misteri angka 1, 2, ....., 22 dalam berbagai peradaban. Khusus untuk angka 23 tidak ada ada informasi yang disampaikan. Misteri selanjutnya adalah angka 24, 25, 27, 28, 30, 33, 35, 36, 39, 40, 42, dan seterusnya. Hampir sebagian besar berupa angka genap dan sedikit angka ganjil yaitu 49, 55, 99, 153, 1001 dan angka terbesar yang diungkap misterinya dalam buku ini adalah 10.000.

Prof. Sato dari Ibaraki University Hadiri Tea Morning dengan IRO Unsoed

[unsoed.ac.id, Sen, 23/3/15] Prof. Sato dari Ibaraki University bertemu dan beramah tamah dengan Prof. Loekas Susanto, Ph.D dan Tim International Relation Office (IRO) UNSOED di Hotel Wisata Niaga, Sabtu, 21 Maret 2015. Acar ramah tamah yang dikemas dalam acara Tea Morning ini menjadi sarana komunikasi antara UNSOED dan Prof. Sato dari Ibaraki University untuk menjalankan berbagai program bersama.  Tim IRO Dr. Suprayogi dan Bu Tunjung mengungkapkan apresiasi atas partisipasi mahasiswa Prof. Sato dari Ibaraki University dalam Summer Camp tahun lalu.  Tim IRO yang menyertakan dua stafnya Uki dan Evi juga meyampaikan akan ada summer camp lagi tahun ini di UNSOED.  Prof. Sato yang sudah cukup lama melakukan penelitian Strawberry di Purbalingga ini akan kembali berpartisipasi kembali dalam summer camp sekitar agustus 2015 nanti. 

Prof. Sato memiliki misi dalam program penelitiannya di Serang Purbalingga khususnya di Kebun Strawberry.  “Saya berharap dapat meningkatkan hasil produksi yang unggul dengan buah strawberry berkualitas tinggi di Purbalingga,” ungkapnya.  Disampaikan oleh Prof. Sato kepada Prof. Loekas bahwa saat ini buah strowberry di Serang Purbalingga mengalami penurunan produksi.  “Hal ini dikarenakan serangan hama seperti Bemisia Tabaci atau sejenis kutu putih atau biasa disebut silver leaf whitefly,” ungkapnya. 

Sebelum mneinggalkan Purwokerto, Prof. Sato memberikan kenang-kenangan Green Tea kepada IRO.  Sembari menanti kedatangan Kereta, Prof. Sato didampingi Dr. Krissandi Wijaya dari Unsoed dan Dr. Anik dari UGM serta anak asuh Prof. Sato berkeliling Purwokerto menikmati suasana.  Maju terus Pantang Menyerah !

Menjadi Sukarelawan di Tiongkok

[unsoed.ac.id, Sen,23/3/15] Dipercaya sebagaimana layaknya duta pendidikan dan kebudayaan menjadi hal yang membanggakan bagi siapapun.  Tak terkecuali bagi Deninda Firmanda Putri, Mahasiswa Hubungan Internasional Unsoed yang terpilih untuk menjalani Exchange Program dari AIESEC proyek Dare to Dream yang menjadi duta mengajar anak-anak di Tiongkok.  Selain mengajar bahasa inggris, program ini memiliki tujuan utama melatih kepemimpinan kaum muda dan membuat mereka membangun jembatan budaya antar bangsa.  Denin berada di Tiongkok selama satu bulan sejak 19 Januari hingga Fabruari.  “Saya mengajar di Xi’an Music and Dance School, terletak di kota Xi’an di Provinsi Shaanxi,” ungkapnya.  “Selain mengajar bahasa inggris dan memberikan motivasi, saya juga  mengenalkan budaya Indonesia utamanya wayang dan tari saman dan ternyata mereka sangat tertarik,” lanjutnya.  Dalam program ini Denin juga bersama relawan lain dari berbagai negara.  “Selain mengenal Tiongkok dan panitia lokal, lewat program ini saya jadi mengenal banyak teman dari berbagai negara,” ungkapnya.

Salah satu hal paling menyenangkan bagi Denin adalah saat pekan pertama diadakan Global Village.  volunter dari berbagai negara menampilkan kekhasan negara masing-masing.  “Pada saat itu saya merasa antusias untuk memperkenalkan Indonesia kepada seluruh penonton,” ungkapnya. Para volunter Indonesia mengenakan batik saat presentasi.  “Saya memperkenalkan wayang yang saya bawa dari Indonesia dan mereka sangat tertarik untuk memainkannya, dan suasana juga begitu meriah ketika saya menyanyikan lagu-lagu daerah dari Indonesia hingga membuat anak-anak murid saya sangat ingin segera datang ke Indonesia,” lanjutnya.  Denin dalam setiap pelajaran yang disampaikannya juga menggunakan cara yang sangat Indonesia, salah satunya saat story telling, Denin menceritakan kisah Kancil dan Buaya dan Bawang Merah Bawang Putih yang dipadukan dengan pembuatan prakarya.  “Kami juga memberikan materi  prakarya, yaitu membuat buaya dari dus bekas makanan ringan serta membuat hidung, telinga, dan tanduk rusa sebagai pengganti kancil,” jelasnya.  Selama mengajar dan menginap di Xi’an bersama murid-muridnya Denin banyak menggunakan strategi bermain games untuk mengajar bahasa Inggris, seperti spelling bee, word scrabble, serta word guessing.

Selama menjalani program ini, Denin merasa semakin memahami  bahwa perbedaan berbagai bangsa dan budaya memiliki bahasa yang dapat menyatukan semuanya yaitu saling menghormati, menghargai, dan mencintai sesama manusia.  Teman-teman yang baik, panitia lokal yang ramah, dan murid-murid yang menyenangkan membuat Denin bisa tetap semangat meskipun suhu di Xi’an sangat dingin yaitu -30 hingga -50 C.  “Satu-satunya yang membuat saya sedih atau lebih tepatnya terharu adalah saat program ini berakhir dan saya harus kembali ke Indonesia,” jelasnya.  Banyak kenangan dan kebersamaan yang mendewasakannya.  “Banyak anak-anak yang memberikan saya surat serta membuatkan berbagai karya tangan sebagai kenang-kenangan, bahkan Linda salah satu murid saya memberikan saya gelang pemberian kakeknya yang merupakan lambang keberuntungan dan kebahagiaan,” ungkapnya.  Denin pada kesempatan ini juga  memberikan buku catatan kecil serta gantungan kunci wayang sebagai tanda kenang-kenangan. “Walau saya berperan sebagai guru, namun saya juga belajar banyak dari mereka, semangat mereka yang tinggi, kedisiplinan dan ketekunan yang tinggi, serta kemandirian benar-benar menjadi sebuah pembelajaran bagi saya,” jelasnya. Maju Terus Pantang Menyerah !

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Gelar Talkshow Peringati Hari Air Sedunia

[unsoed.ac.id, Sen, 23/3/15] Dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret, Fakultas Perikanan dan Kelautan Unsoed adakan Talkshow di Gedung Roediro, Minggu (22/3). Talkshow mengangkat tema “Teknologi dan Strategi Pengelolaan Air Berbasis Ekologi, Sosial dan Ekonomi”. Hadir sebagai pembicara Dr. Ir. Hefni Effendi,  M.Phil selaku Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) serta Dosen Institus Pertanian Bogor (IPB) pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan selanjutnya Slamet Rosyadi selaku Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik FISIP & Dosen Magister Ilmu Lingkungan Unsoed. Kemudian dalam acara talkshow ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Para Dosen, Mahasiswa dan SMA/SMK/MA/Sederajat Se-Banyumas.

Dr. Ir Isdy Sulistyo, DEA selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, dalam pembukaanya menyampaikan bahwa dalam memperingati hari air sedunia ini Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsoed diharapkan dapat ikut serta dalam berkontribusi pemanfaatan air secara berkelanjutan dan optimal baik secara kuantitas maupun kwalitas sebagai penunjang pembangunan sumber daya alam secara berkelanjutan dan dapat dinikmati secara luas oleh masyarakat.

Pada pembicara yang pertama Dr. Ir. Hefni Effendi, M.Phil dalam pemaparanya menyampaikan Air dan Permasalahannya dengan membandingan jumlah manusia dan sumber daya alam, pendistribusian air dibumi, prosentase ketersediaan air tawar dengan kwalitas memadai untuk dikonsumsi dan prilaku bijak dalam pemanfaatan air.

Kemudian pada pembicara selanjutnya Slamet Rosyadi memaparkan strategi pengelolaan air secara berkelanjutan yang dihadapkan pada krisis air di indonesia yang disebabkan faktor tata kelola yang buruk dan nilai-nilai sosial di sebagian besar masyarakat serta konteks pembangunan berkelanjutan pada pengelolaan air tidak lagi efektif dikarenakan jangkauan Geografis yang sangat luas maka dibutuhkan strategi pengelolaan air yang berkelanjutan yang menempatkan masyarakat dan institusinya sebagai basis dan aktor utamanya.

Maju Terus Pantang Menyerah!

 

Aktifis Buruh Migran FISIP Bersiap Ikuti Konferensi Internasional di Bangkok Thailand

[unsoed.ac.id, 23/15] Tyas Retno Wulan, akademisi Jurusan Sosiologi Fisip Unsoed identik dengan pemberdayaan buruh migran.  Bersama koleganya, Sri Wijayanti Taslim dosen Hubungan Internasional Fisip dan Eri Wahyuningsih Dosen Kesmas Fikes acapkali mengisi pelatihan dan memperkenalkan program kewirausahaan kepada anggota masyarakat yang dikelola mantan buruh migran Indonesia - SERUNI. Kiprah mereka mendapatkan apresiasi hingga tingkat internasional. tidak terkecuali kiprah mereka dalam konferensi internasional tentang Kesetaraan Gender dan Hak Asasi Manusia Perempuan yang diselenggarakan oleh RWI (Raoul Wallenberg Institute) di Bangkok 23-25 Maret 2015.

Raoul Wallenberg Institute adalah lembaga akademis yang independen, berkecimpung dalam bidang Hak Asasi Manusia dan Hukum Humaniter didirikan pada tahun 1984 di Swedia. Raoul Wallenberg merupakan  seorang diplomat Swedia, sebagai penghormatan atas karya kemanusiaannya di Hungaria pada akhir Perang Dunia Kedua. Institut ini memiliki Visi menjadi pusat keunggulan pengembangan masyarakat berdasarkan budaya hak asasi manusia. Prinsip kerja organisasi didorong oleh empat nilai-nilai inti yaitu respect, integritas, inklusif dan Inspiratif.

Keaktifan mereka diawali sejak konferensi RWI di Malaysia tahun lalu. Menurut Ibu Tyas aktifitasnya sangat menarik, mampu membuat kombinasi unik di mana teori dan praktek dapat bertemu dan berinteraksi dalam rangka mendorong pengembangan dan penerapan hak asasi perempuan. Institut ini melaksanakan kegiatan program internasional di Afrika, Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Salah satu kantor Institut luar negeri berbasis di Jakarta.

Adapun, Konferensi Kesetaraan Gender dan Hak Asasi Manusia Perempuan oleh RWI diadakan di Holiday Inn Bangkok Silom di Bangkok Thailand, 23-25 Maret 2015. Hari pertama (Senin 23 Maret) peserta harus melakukan daftar ulang. Selanjutnya diadakan acara welcome dinner, merupakan ajang ramah tamah dan saling mengenal bagi peserta konferensi dari berbagai negara. Workshop akan diadakan di Ruang Emerald 1 dan 2. Kesempatan ini akan digunakan Ibu Tyas dan kawan-kawan untuk presentasi  kegiatan mereka selama satu tahun terakhir. Penelitian mengenai buruh migran, pemberdayaan melalui SERUNI, bahkan akses  kepada pemerintah daerah telah dilakukan untuk meningkatkan keejahtaeraan buruh migran.

Maju Terus Pantang Menyerah !

Sarana Demokrasi Anggota UPI Fakultas Biologi

[unsoed.ac.id, Jum, 20/3/15] Kehidupan demokrasi sudah mendarah daging bagi bangsa Indonesia. Demokrasi tidak hanya dilakukan dalam kegiatan kenegaraan, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat, sekolah dan keluarga. Seperti yang dilakukan oleh Unit Penelitian Ilmiah (UPI) Fakultas Biologi yang mengadakan rapat umum anggota (RUA) yang bertujuan untuk membahas rencana dan segala permasalahan yang ada diorganisasi, dan salah satunya membahas pemilihan presiden baru pada akhir Februari lalu. Acara tersebut diikuti oleh seluruh anggota UPI dan alumni UPI.    

Hasil keputusan RUA antara lain terbentuknya Tim Komisi Pemilihan Umum (KPPU) UPI, demi kelancaran proses pemilihan presiden ini dan terpilihnya 3 calon presiden UPI yaitu Zahra Rahmawati (Capres 1), Hedi Susanto (Capres 2), Yuniar Nur Aziz (Capres 3). Rangkaian jadwal yang telah direncanakan antara lain: 6-8 Maret 2015: Kampanye Tertulis Calon Presiden UPI, 9 Maret : Kampanye Oral Calon Presiden UPI, 10 Maret: Hari Tenang dan 11-12 Maret 2015 merupakan hari pemilihan presiden UPI secara langsung dan diikuti dengan perhitungan suara

Dari data KPPU dinyatakan bahwa anggota yang berhak memilih presiden periode 2015 yaitu anggota UPI angkatan XXII, XXIII, XIV dan XV. Pemungutan suara dilakukan dilobi depan dan tengah Fabio dan suara pemilih yang masuk 108 suara pemillih dari jumlah daftar pemilih tetap yang ada. Berdasarkan hasil perhitungan suara, diperoleh 3,7% suara tidak sah, sedangkan Capres 1 memperoleh 27,78% dukungan suara, Capres 2 memperoleh 59,26% dukungan suara dan 9,26% dukungan suara untuk Capres 3. Dengan demikian, Capres 2  Hedi Susanto berhak menjadi Presiden UPI 2015.

Acara berakhir secara simbolis dengan pemakaian “Jas Keramat” Presiden UPI yang baru, oleh Presiden UPI periode sebelumnya Akhmad Arifin. Presiden UPI 2015 Hedi Susanto dalam sambutannya berharap agar dirinya bisa mengemban amanat untuk terus memutar roda organisasi agar tetap dimanis. “Semoga saya bisa memberikan iklim yang dinamis bagi UPI, dan UPI semakin solid dan berprestasi,”katanya.

Perwujudan demokrasi dari lingkungan terkecil akan melatih kita agar selalu menerapakan demokrasi dimanapun dan kapanpun. Dengan demokrasi, segala hal permasalahan dapat dipecahkan dengan baik sehingga akan meminimalisir gesekan-gesekan yang akan terjadi dan UPI Fakultas Biologi telah membuktikannya. Maju Terus Pantang Menyerah ! (SUM/APR)

Halaman

Subscribe to Test RSS

Buletin

Jangan mau ketinggalan berita yang menarik dan update! Pastikan untuk bergabung dengan kami.

Jl. HR Boenyamin 708 Purwokerto 53122.

EMAIL DAN SOSIAL MEDIA